Kamis, 10 Februari 2011

tambak ikan

Kebanyakan petani pembudidaya ikan bandeng saat ini dalam melakukan budidaya mengacu pada sistem lama yang ternyata tidak ramah lingkungan, mereka masih berorientasi pada produksi panen tinggi/melimpah dengan cara yang mudah, yaitu dengan memperbanyak pemberian pupuk anorganik (Urea,dll) sebagai pemicu tumbuhnya kelekap dan plangkton untuk pakan alami ikan bandeng. Mungkin mereka saat ini belum memikirkan efek yang akan terjadi dikemudian hari (dalam kurun waktu tertentu) tanah menjadi tidak subur lagi akibat penumpukan kadar Nitrogen di dalam tanah yang terakumulasi tersebut tidak dapat terurai secara alamiah dalam tanah, dan malah akan menumpuk sebagai racun berupa Nitrit (NO2) dan Amoniak (NH3). Kebanyakan petani melihat kondisi tersebut bukannya berhenti atau merubah sistem tersebut tetapi malah semakin memperbanyak pemberian pupuk anorganik (Urea), sehingga bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dikemudian hari, yaitu bukannya produksi melimpah seperti yang diharapkan tetapi malah tanah menjadi tandus (tidak subur) sehingga pakan alami berupa plankton serta kelekap akan sulit tumbuh, akibatnya ikan bandeng pertumbuhannya lambat bahkan dapat timbul penyakit / keracunan, sehingga produksi akan menurun dan bahkan tidak akan pernah panen lagi seperti yang diharapkan. Apabila dipandang dari sudut ekonomi tentunya akan semakin banyak biaya produksi yang terbuang untuk pembelian pupuk anorganik yang bahkan semakin sulit dicari dan harganyapun melonjak semakin mahal (meskipun harga pupuk untuk petani tersebut telah disubsidi oleh pemerintah), bagaimana bila kelak subsidi kemudian dikurangi atau dihentikan, tentu mereka akan mengeluh dan tidak bisa menerima keadaan tersebut.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pola pikir atau kebiasaan lama tersebut dan siap dengan menerapkan sistem baru yang lebih ramah lingkungan. Cara atau teknik yang diterapkan sebenarnya telah dikenal oleh para pembudidaya ikan karena sistem ini telah biasa diterapkan pada budidaya udang, yaitu tidak memakai pupuk anorganik secara berlebihan (bahkan sama sekali tidak perlu memakai pupuk anorganik)tetapi dengan menggunakan pupuk organik secara terkontrol serta melakukan pengolahan lahan tambak secara baik dan benar. Manfaat penggunaan pupuk ORGANIK bila ditinjau dari segi ekonomis tentunya lebih murah dan lebih efisien bila dibandingkan untuk biaya pembelian pupuk Urea, selain itu untuk tahap budidaya selanjutnya dapat dilakukan pengurangan dosis pupuk organik (lebih hemat)karena efek terhadap kesuburan lahan tambak masih terus berlangsung. 
Teknik budidaya bandeng untuk memacu pertumbuhan dan mempersingkat masa panen sebenarnya cukup sederhana, namun dalam pembahasan ini satu hal yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya pemakaian bahan kimia dan pupuk anorganik. Pengolahan Lahan Pengolahan lahan diawali dengan pengeringan lahan tambak secukupnya (sampai tanah merekah) lalu dilakukan pembajakan/pembalikan tanah, kemudian tebar PUPUK ORGANIK (kompos/fine kompos/bokashi) disebar secara merata di lahan tambak (takaran pupuk organik yaitu ± 3 – 5 ton per hektar)disesuaikan dengan kondisi kesuburan lahan tambak, setelah itu lakukan penebaran kapur pertanian/dolomit (takaran dolomit antara 500-1000 kg/hektar) disebar merata. Pemupukan lanjutan Pemupukan lanjutan yaitu dengan menyiapkan kantong (sak) yang telah diisi dengan pupuk organik / fine kompos lalu tempatkan di sekeliling dalam petakan tambak (ditanam separo dalam tanah) kemudian ditusuk (diberi lubang) hal ini dimaksudkan agar proses penguraian pupuk dalam air dapat berlangsung secara terus menerus(kontinyu) sehingga lebih efektif dan efisien. Manajemen Pakan (pengaturan pemberian pakan) Pakan yang diberikan adalah pakan pelet apung khusus untuk ikan bandeng (kadar protein antara 25-35%), dimana pemberian pakan buatan atau pelet mulai dilakukan setelah stock pakan alami mulai menipis atau mulai diberikan setelah masa pemeliharaan 1 (satu) bulan sampai dengan panen. Perhitungan secara "sederhana" terhadap jumlah pakan yang diberikan dapat dimulai dengan takaran 30 - 60 kg untuk jangka waktu 2 (dua) minggu, selanjutnya setelah dua minggu kedepan dan selanjutnya secara rutin takaran dinaikkan sebesar dua kali lipat dari sebelumnya, demikian terus dilakukan sampai panen.
Diterbitkan di: Maret 102010   DiperbaruiOktober 052010
Mohon Ringkasan ini dinilai :12345     

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar